Ketika Nipong si Anak Pertama Menikah

Rasanya baru kemarin menggendongnya dalam pelukan. Tangan kecil yang dulu menggenggam jari kita dengan erat, kini telah cukup kuat untuk menggenggam tangan seseorang yang akan menjadi teman hidupnya. Waktu memang berjalan tanpa suara, namun jejaknya begitu nyata.

Masih teringat saat ia belajar berjalan. Langkahnya goyah, sesekali terjatuh, lalu bangkit kembali dengan senyum polos yang membuat lelah seharian hilang begitu saja. Masa-masa bermain bersama, mengantarnya ke sekolah, mendengar cerita-cerita kecil yang baginya sangat penting, kini perlahan berubah menjadi kenangan yang tersimpan rapi dalam hati.

Hari ini, 15 Jun 26 anak pertama itu telah menikah.

Ia meminang seorang perempuan dari keluarga yang sebelumnya tidak kami kenal. Orang-orang yang dahulu asing, kini menjadi bagian dari keluarga besar kami. Begitulah indahnya takdir Allah. Dari dua keluarga yang berjalan di jalan masing-masing, dipertemukan melalui sebuah ikatan yang suci.

Awalnya terasa aneh. Seorang anak yang selama bertahun-tahun menjadi bagian utama dalam rumah, kini memiliki rumah dan tanggung jawabnya sendiri. Namun inilah siklus kehidupan yang telah berlangsung sejak dahulu. Anak-anak tumbuh, belajar mandiri, lalu membangun keluarganya sendiri. Orang tua hanya menjadi saksi perjalanan itu sambil terus memanjatkan doa.

Di tengah kebahagiaan ini, ada perasaan lain yang sulit dijelaskan. Bukan kesedihan, melainkan kesadaran bahwa usia terus bertambah. Rambut yang dahulu hitam mulai dihiasi uban. Tenaga yang dahulu begitu kuat kini tidak lagi sama. Dan tanpa terasa, fase kehidupan telah berganti.

Kini masih ada tiga anak yang tersisa di rumah. Mereka masih riang, masih manja, masih berebut perhatian, masih sibuk dengan sekolah dan dunia kecil mereka. Suara tawa mereka masih memenuhi setiap sudut rumah. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa perjalanan sebagai orang tua belum selesai.

Namun melihat anak pertama melangkah ke kehidupan baru memberikan pelajaran berharga: waktu bersama anak adalah sesuatu yang sangat berharga. Hari-hari yang terasa biasa hari ini, kelak akan menjadi kenangan yang dirindukan.

Karena itu, selama mereka masih berada di rumah, selama mereka masih meminta ditemani belajar, selama mereka masih ingin bercerita sebelum tidur, nikmatilah setiap momennya. Sebab suatu hari nanti, mereka pun akan tumbuh, menemukan jalan hidupnya, dan memulai babak baru sebagaimana kakaknya hari ini.

Sebagai orang tua, tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, bertanggung jawab, dan mampu membangun keluarga yang diridhai Allah.

Semoga Allah menjaga langkah mereka, melimpahkan keberkahan dalam rumah tangga yang baru dibangun, menjadikan keluarga mereka keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta memberikan keturunan yang saleh dan salehah.

Dan untuk kami yang mulai menua, semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, umur yang bermanfaat, serta kesempatan untuk terus menyaksikan kebahagiaan anak-anak hingga akhir hayat.

MashaAllah, ternyata waktu berjalan begitu cepat. Anak yang dulu kami timang dalam pelukan, kini telah memulai perjalanan hidupnya sendiri. ❤️

“Ya Allah, titipkan kebahagiaan anak-anak kami dalam penjagaan-Mu, sebagaimana dahulu Engkau menitipkan mereka kepada kami.” 🤲🏻✨

Sibuk

Sungguh rasanya ini sudah masuk tahap kritis. Kupikir aku tak akan pernah terjerumus ke dalam kekuatan “roh android” dari sebuah smartphone. Dulu aku percaya diriku cukup kuat untuk menjaga batas, cukup sadar untuk mengendalikan diri. Tetapi sekali sentuhan layar itu dimulai, rasanya sulit sekali melepaskan. Seolah ada tarikan halus yang menahan, mengajak tetap menetap di dunia kecil yang begitu riuh.

Beberapa aktivitas yang seharusnya berjalan tenang dan tanpa gangguan—bahkan yang sifatnya sakral—kini ikut terdistraksi. Waktu yang dulu kuhabiskan dengan fokus penuh, sekarang tercabik oleh notifikasi, scroll, dan rasa penasaran yang tak ada habisnya.

Padahal dulu, aku bisa begitu khusyuk dalam ibadah. Mendengar lantunan azan saja sudah cukup membuat hati luluh dan ingin segera menenangkan diri. Momen berkumpul dengan keluarga pun penuh hangat: ide-ide bermunculan, cerita mengalir, dan tawa tak putus. Tidak ada yang menginterupsi. Tidak ada tangan yang terus-menerus mencari layar ponsel.

Namun perlahan, tanpa kusadari, rutinitas berubah. Nafasku diseret oleh ritme gawai: video pendek, timeline, feed, pesan, informasi, dan segala hal yang seakan harus kulihat saat itu juga. Dunia digital begitu cepat, begitu ramai, dan begitu pandai menghisap perhatian.

Sampai di titik ini aku bertanya: sebenarnya siapa yang mengendalikan siapa?
Aku, atau benda tipis yang selalu kugenggam itu?

Kadang aku rindu versi diriku yang lama. Diriku yang hadir sepenuhnya, bukan hanya fisik. Diriku yang tak mudah goyah oleh suara-suara dari layar. Diriku yang bisa menikmati percakapan nyata, udara segar, lantunan doa, bahkan kesunyian.

Mungkin ini saatnya berhenti sejenak.
Mungkin ini waktunya mengambil jarak, menertibkan hati, dan membangun kembali ruang-ruang yang dulu pernah damai.

Karena hidup terlalu berharga jika hanya habis untuk scroll tanpa henti.
Dan aku yakin, masih ada bagian dari diriku yang ingin kembali pulang—kepada hal-hal yang sederhana, hangat, dan benar-benar berarti.

Namun sering kali, aku berdalih.
Aku menghibur diri dengan alasan: “Ini demi masa depan. Demi menjadi konten kreator. Demi meraih sukses seperti orang-orang di layar itu.”
Seakan-akan, setiap menit yang kuhabiskan menatap ponsel adalah investasi.
Seakan-akan, cuan akan mengalir deras dari berbagai platform hanya karena aku terus berada di dalamnya.

Entahlah…

Kadang aku lupa, bahwa tidak semua yang sibuk adalah produktif.
Tidak semua yang viral adalah berkah.
Tidak semua yang tampak sukses benar-benar bahagia.

Dan tidak semua orang yang mengejar dunia digital benar-benar menemukan dirinya.

Mungkin pada akhirnya, yang terpenting bukanlah menjadi terkenal atau kaya dari layar,
melainkan kembali menjadi manusia yang utuh—yang tahu kapan harus berhenti,
yang tahu kapan harus hadir,
yang tahu mana yang benar-benar berarti dalam hidupnya.

JKT , 05/12/25

Nekad

Di dunia semodern ini banyak upaya yang telah dilakukan manusia guna menyesuaikan diri untuk mengikuti jaman. Barangkali hampir separuh penduduk bumi telah terbiasa dengan perilaku online, yang beberapa dekade lalu mereka cibir. Seiring bertambahnya waktu, nyatanya dunia modern hanya melulu mengandalkan kemudahan hal admistratif atau transaksional, selebihnya tak akan tergantikan ketika petani kesulitan air ketika musim kemarau. Isu krisis pangan mengemuka di berbagai level pengatur kebijkan dunia, menggema di berbagai seminar dan konvensi. 

Keresahan ini telah dialami beberapa tahun lalu oleh tetanggaku yang bernama Ritme (Ritno Menggolo) yang beberapa kali membuang smartphone terkutuk ke sungai, ke lembah dan beberapa samudera, namun akhirnya kembali lagi mencarinya karena belum bisa dan situasi lingkungan sudah tak memungkinkan untuk mengadopsi segala hal tanpa smartphone. Di tahun ini, 2024 ia bertekad untuk ke sekian kalinya untuk menghentikan segala ketergantungan dengan benda pintar tersebut. Secara tekhnis ia telah berhasil memendam itu semua, ia mulai membuka lahan di hutan dan terpencil dari dunia modern. Berbekal cangkul, bendo, gergaji dan alat-alat penunjang, serta berbagai pasang binatang peliharaan, serta anak istri turut serta diboyongnya. Ia mendirikan komunitas baru dan memulai hidup sebagaimana kehidupan manusia dimulai.


Bersambung... kapan-kapan.,


Blog ini tahap penyemangatan karena itu agar akun ini dapat berkembang dan bertahan serta ke depan nanti dapat menyajikan tulisan yang berkualitas, kami membutuhkan dukungan dan donasi dari audiens penikmat ulasan mengenai berbagai hal,  sekecil apapun donasi yang Anda berikan, dengan senang hati dan rasa syukur, semoga amal baik Anda mendapat balasan Tuhan YME. Untuk link donasi ada di bawah ini:

Babak Baru 2024

Januari 2024

Era digital sebenarnya, kita banyak menemukan para konten kreator baru di berbagai sosmed. Tak lain dan tak bukan banyak yang tertarik dunia kreator salah satunya mendulang cuan dari sana. Selain berlomba-lomba membuat konten untuk tujuan uang, namun tak sedikit yang memanfaatkan ruang  di berbagai platform untuk menjalin jangkauan pertemanan, menyalurkan hobi yang sekian lama tidak ada ruang. Dan semua sarana penunjang juga telah memadai, baik smartphone, kwalitas kamera, dan kemudahan editing video di aneka aplikasi.

Di tahun politik, lagi musim debat capres yang saat ini tercatat ada 3 kandidat, Anis-Cak Imin, Prabowo-Gibran, dan pasangan Ganjar-Mahfud. Hujan yang terlambat datang, Desember 2023 masih kekeringan dan di kampungku masih saja banyak warga yang kesulitan air bersih.

lama tidak menulis dan berfikir, akhirnya begini... bakat menulisku seperti hilang ditelan bumi. Apa iya daya pikir hilang ditelan konten video pendek yang hanya sekedar memercik penasaran dan bias makna. mana ada konten yang nyantol di otak, semua  sebenarnya hanya sekedar kegiatan scrol-scrol tak berguna. 

Lompat ke sana kemari mudahnya pindah dari aplikasi satu ke aplikasi lainya, dan hinggap ke e-commers dan campuran keduanya, terjebak ke dalam dentuman harga dan potongan harga, merasa perlu membeli saat itu juga. Entah sihir apa yang membuat hal yang tidak perlu, menjadi sangat mendesak untuk dibeli, 


bersambung kapan-kapn