Sibuk
Sungguh rasanya ini sudah masuk tahap kritis. Kupikir aku tak akan pernah terjerumus ke dalam kekuatan “roh android” dari sebuah smartphone. Dulu aku percaya diriku cukup kuat untuk menjaga batas, cukup sadar untuk mengendalikan diri. Tetapi sekali sentuhan layar itu dimulai, rasanya sulit sekali melepaskan. Seolah ada tarikan halus yang menahan, mengajak tetap menetap di dunia kecil yang begitu riuh.
Beberapa aktivitas yang seharusnya berjalan tenang dan tanpa gangguan—bahkan yang sifatnya sakral—kini ikut terdistraksi. Waktu yang dulu kuhabiskan dengan fokus penuh, sekarang tercabik oleh notifikasi, scroll, dan rasa penasaran yang tak ada habisnya.
Padahal dulu, aku bisa begitu khusyuk dalam ibadah. Mendengar lantunan azan saja sudah cukup membuat hati luluh dan ingin segera menenangkan diri. Momen berkumpul dengan keluarga pun penuh hangat: ide-ide bermunculan, cerita mengalir, dan tawa tak putus. Tidak ada yang menginterupsi. Tidak ada tangan yang terus-menerus mencari layar ponsel.
Namun perlahan, tanpa kusadari, rutinitas berubah. Nafasku diseret oleh ritme gawai: video pendek, timeline, feed, pesan, informasi, dan segala hal yang seakan harus kulihat saat itu juga. Dunia digital begitu cepat, begitu ramai, dan begitu pandai menghisap perhatian.
Sampai di titik ini aku bertanya: sebenarnya siapa yang mengendalikan siapa?
Aku, atau benda tipis yang selalu kugenggam itu?
Kadang aku rindu versi diriku yang lama. Diriku yang hadir sepenuhnya, bukan hanya fisik. Diriku yang tak mudah goyah oleh suara-suara dari layar. Diriku yang bisa menikmati percakapan nyata, udara segar, lantunan doa, bahkan kesunyian.
Mungkin ini saatnya berhenti sejenak.
Mungkin ini waktunya mengambil jarak, menertibkan hati, dan membangun kembali ruang-ruang yang dulu pernah damai.
Karena hidup terlalu berharga jika hanya habis untuk scroll tanpa henti.
Dan aku yakin, masih ada bagian dari diriku yang ingin kembali pulang—kepada hal-hal yang sederhana, hangat, dan benar-benar berarti.
Namun sering kali, aku berdalih.
Aku menghibur diri dengan alasan: “Ini demi masa depan. Demi menjadi konten kreator. Demi meraih sukses seperti orang-orang di layar itu.”
Seakan-akan, setiap menit yang kuhabiskan menatap ponsel adalah investasi.
Seakan-akan, cuan akan mengalir deras dari berbagai platform hanya karena aku terus berada di dalamnya.
Entahlah…
Kadang aku lupa, bahwa tidak semua yang sibuk adalah produktif.
Tidak semua yang viral adalah berkah.
Tidak semua yang tampak sukses benar-benar bahagia.
Dan tidak semua orang yang mengejar dunia digital benar-benar menemukan dirinya.
Mungkin pada akhirnya, yang terpenting bukanlah menjadi terkenal atau kaya dari layar,
melainkan kembali menjadi manusia yang utuh—yang tahu kapan harus berhenti,
yang tahu kapan harus hadir,
yang tahu mana yang benar-benar berarti dalam hidupnya.
JKT , 05/12/25