Boarding Pass - Darat

Ruang tunggu St. PWT

bepergian paling nikmat bagiku adalah menggunakan moda transportasi berupa kereta, karena nyaman dan tidak macet, akan tetapi bepergian dambaan dan impian besarku adalah menggunakan mobil sendiri bersama anak istri, ibu, handai taulan, ponakan. 
Merantau sejak lama dari jaman kereta masih pakai manajemen konservatif dimana mulai pemesanan tiket yang langsung di loket, bisa titip orang dalam, bisa beli ke calo, hingga pengaturan penumpang saat masuk dan pengantar yang boleh turut serta ke peron dengan membayar sejumlah uang untuk menebus tiket peron. Semua terlihat semrawut tatkala lonjakan penumpang terjadi saat hari libur maupun hari raya. Minta ampun semrawutnya..
Dan saat itu aku dari sisi pengguna jasa dan rakyat indonesia mendambakan kelak saat menggunakan jasa kereta api bisa nyaman. Tiket mudah, dan hanya penumpang saja yang bisa masuk ke peron, waktu tunggu sebentar, waktu tempuh lebih singkat, dan tidak ada pengasong di dalam gerbong. Itu semua butuh waktu hampir 17 tahun, dan saat ini semua nyata bisa kualami sendiri secara langsung bukan katanya apalagi rumors.

Memesan tiket sambil tiduran, lalu bayar tinggal klik, simpan nomor booking lalu saat hari jadwal berangkat jangan telat karena 1 jam sebelum kereta berangkat harus check in dengan boarding pass yang kita cetak di loby stasiun dengan mengetikan kode booking yang sudah kita dapatkan. Lalu boarding pass yang sekarang berjenis kertas lemas macam termal untuk fax ada barcode dan discan sama petugas, tentu saja sambil wajib menunjukan kartu identitas sesuai dengan yang tertera di boarding pass. Lalu masuk ke ruang tunggu yang jauh lebih nyaman. Kursi tidak sekeras dulu, para petugas kebersihan berkali-kali hilir muudik membersihkan, toilet yang bersih dan gratis, lalu bisa pesan minuman hangat di gerai-gerai yang terintegrasi dengan stasiun. Rasanya memang sempurna, dan itu semua ada harga yang harus dibayar, tapi tidak masalah karena di situlah letak kepuasan pelanggan. Zero complain barangkali menjadi sassaran manajemen KAI yang dulu bernama PJKA.

Sekian lama menggunakan Bus, sehingga masih sedikit kagum atas perubahan-perubahan yang dilakukan oleh KAI. Bus memang lumayan karena pemandangan sekeliling melintasi aneka ragam jarak pandang, tapi karena jalan sepanjang brebes hingga Ajibarang rusak berlubang beberapa bulan yang lalu Dec 2016-Mar 2017 mengalami kemacetan parah. Maka beralih ke kereta meski 3x lebih mahal dari bus, tapi 5 jam dapat kutempuh dari maupun ke Jakarta.

Konon beberapa tahun ke depan akan ada kereta cepat yang mana JKT-SUB dapat ditempuh dalam waktu 4-5 jam, artinya Jakarta-Purwokerto dapat ditempuh sekira 1.5 jam saja. Emejing bangat kan?