Ini bukan mau membela diri, tapi jujur saja dengan hutang ada sisi positifnya ini menurutku priba
di, yaitu ada semangat lompatan, istilah kampungku itu nggregah, yaitu bentuk dari suatu gairah hidup yang dipaksakan. Contoh mudahnya, saya perlu benda X, jika saya beli sekarang secara tunai maka tidak akan mampu. Kemudahan sistem perdagangan dan bisnis kali ini baik sektor pembiayaan maupun perbankan memungkinkan untuk siapa saja bisa memiliki benda impian. Maka saya pilih memiliki sekarang dengan cara kredit. Bulan demi bulan membayar angsuran, semangat atau gairah awalan saja kiranya berlaku, semakin ke sana semakin menyiksa, karena kebutuhan semakin melebar tidak hanya faktor a sampai c, namun sudah d sampai z bahkan memecah a1, b1, dll.
2015, menjadi tahun genting bagi sejarah ekonomi keluarga. Memberanikan kredit di BRI untuk belanja modal sementara aku hengkang dari pekerjaan. otomatis untuk menutup tiap bulan ke Bank musti meningkatkan semangat, mengejar omset dagang, dan pakai dana mana yang ada. 36 bulan adalah waktu yang panjang,..
Mualailah bekerja kembali, Allah memudahkan semuanya karena memang aku orang yang sangat disiplin dalam berhutang. Tak pernah kulewati tenggat waktu yang ditentukan, maka bekerja di tempat baru merayap demi merayap hingga tgl 01 Feb 2018 adalah pembayaran terakhir. Hutang lunas, meski jatuh tempo setiap tanggal 12. Aku coba-coba instruksi ke istri yang sedang menyelesaikan di bank, coba tanyakan ke Kepala Cabang mintakan refund karena kredit lancar tanpa tunggakan, mereka memohon maaf, payungpun tak ada. ya sudahlah, kami sujud syukur.
