Ceplik

Setelah Lindu pada malam Sabtu lalu menyusul satu kejadian luar biasa pada Ahad 04 Agustus 19 berupa mati listrik (baca: pemadaman) mulai dari pukul 12:00 sampai 20:00 berapa jam tuh? pada hari itu aku ada pekerjaan. Hari Minggu tetap kerja? iya, biar keren.
Kapal sudah panggil pandu jam 14:00, lalu sandar tepat jam 15:00. Setelah sandar cantik di Dermaga seharusnya langsung kerja tuh kapal. Ini diam termangu karena semua peralatan stevdoring (Cran, Gantry) pun system berhenti beroperasi karena ketiadaan pasokan listrik. Efek domino merembet ke mana-mana, tidak bisa kirim laporan, komunikasi dengan captain kapal bahkan tidak bisa telpon anak-anak di rumah. Listrik padam, jaringan telpon dan internet serta merta down. Sangat indah.... Kota Jakarta mendadak penduduknya ramah tamah bertegur sapa. Semua handphone masuk kantong, dan orang-orang kini terlihat bertatap-tatapan sambil ngobrol. Informasi tidak memadai kapankah listrik menyala, tak ada sumber info atau referensi apapun. Sistem komunikasi off kecuali XL yang bertahan sampai jam 14:45 masih bisa pada nyambung. Ini apa si yah? biasanya ada sesuatu. Apa iya perusahaan sekelas PLN demikian tidak profesional. Apakah persoalan teknis? apa iya tidak ada deteksi penanggulangan, prosedur recoverynya bagaiamana? sejam dua jam mungkin Kosim juga maklum, ini setengah hari lho, cuk. 

Lantas aku pergi ke tahun 80-an saat masih kanak-kanak hidup di desa yang belum ter-aliri listrik. Nongton tihwi di rumah pak Lurah, pakai Akki, kalau setrum habis musti mau gotongan mikul Akki ke kecamatan jaraknya sekitar 10 Kilo dan harus jalan kaki. Kalau malam datang selain malam minggu  tak ada yang berani nonton tihwi. Semua di rumah pada sinau baik membaca maupun menghafal butir2 Pancasila atau ayat2 pendek, hampir saja mau nulis ayat-ayat cinta. Berteman redio 2 band dengan gelombang tunggal yaitu RRI dengan siaran yang penuh manfaat baik informasi maupun tingkat hiburanya. RRI berhasil menjadi media pendidikan dan hiburan yang tepat, sehingga otak kita jernih. Penerangan rumah seadanya berupa lampu damar atau ceplik, cukup berisi 100ml minyak latung bisa untuk semingguan. Hidup yang simple dan hemat. Kalau sedang cuaca cerah dan musim kemarau sinar bulan menjadi keindahan tak tergantikan dengan apapun. Jalan kampung remang-remang terlihat berbayang pepohonan. Wayaeh... wayaeh... anak-anak bermain kuwukan, jongjang pukel atau sekedar gobag. Masa pertumbuhan diisi dengan gerak badan setiap saat, meski makanan yang kami makan pada saat itu minim nutrisi, tapi sepertinya kuyakin masih serba alami, tanpa pewarna, tanpa pemanis buatan, tanpa rekayasa genetika, tanpa cinta palsuh. Berkat ceplik, pertumbuhan penduduk meningkat karena produktivitas ditunjang oleh suasana remang-remang bahkan mistis, bukan sekedar remas-remas.