Ilmu Padi di Era Layar Tak Berujung


Aku duduk di ruang tunggu bandara dan tanpa sengaja memperhatikan seorang lelaki paruh baya beberapa kursi di depanku. Di tangannya ada sebuah ponsel sederhana, jauh dari kesan mewah. Layarnya kecil, tidak penuh warna-warni, dan tentu tidak mampu menampilkan video pendek yang kini membuat jutaan orang lupa waktu.

Ia terlihat asyik berkirim kabar. Sesekali tersenyum, lalu menyimpan ponselnya di saku baju. Setelah itu ia membuka surat kabar yang sudah sedikit kusut di bagian lipatan. Tak lama kemudian ia mengobrol dengan orang yang duduk di sebelahnya. Percakapan sederhana, tanpa filter, tanpa emoji, tanpa tombol "like".

Di sudut lain ruang tunggu, seorang perempuan muda tenggelam dalam layar ponselnya. Jempolnya bergerak cepat seperti sedang mengejar sesuatu yang tak terlihat. Kadang ia tersenyum sendiri, lalu mengerutkan dahi. Sesekali mengangkat ponselnya untuk mengambil swafoto, kemudian kembali larut dalam dunianya yang hanya bisa ia lihat.

Tak lama kemudian ia membuka tas, mengeluarkan power bank, dan menyambungkan kabel pengisi daya. Aku tersenyum kecil. Di zaman sekarang, mungkin bukan lagi dompet yang paling sering dicari orang saat bepergian, melainkan baterai.

Aku tidak sedang menyalahkan teknologi. Toh aku sendiri adalah bagian darinya. Aku menulis, bekerja, belajar, bahkan berbincang dengan kecerdasan buatan melalui benda yang setiap hari kubawa ke mana-mana. Sulit menghindari teknologi, sebagaimana sulit menghentikan detak jantung ketika seseorang yang kita sukai tiba-tiba lewat di hadapan kita.

Masalahnya mungkin bukan pada teknologinya. Masalahnya adalah ketika teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia justru mulai menguasai perhatian manusia.

Telepon genggam awalnya lahir untuk mendekatkan yang jauh. Kini ia mampu memperlihatkan seluruh dunia dalam genggaman. Kita bisa melihat peperangan di benua lain, menonton konser dari negara yang belum pernah kita kunjungi, atau berbicara dengan seseorang yang berjarak ribuan kilometer hanya dalam hitungan detik.

Namun di balik kemudahan itu, ada harga yang diam-diam kita bayar: perhatian.

Perlahan kita belajar memberikan waktu berjam-jam untuk hal-hal yang mungkin tidak akan kita ingat seminggu kemudian. Notifikasi menjadi lebih penting daripada suara angin. Jumlah pengikut kadang terasa lebih berharga daripada jumlah teman yang benar-benar mengenal kita.

Barangkali inilah kejeniusan sekaligus jebakan terbesar peradaban digital: membuat hal yang tidak penting terasa sangat penting.

Aku pun tidak kebal terhadapnya. Berkali-kali berniat mengurangi waktu layar, berkali-kali pula kembali tenggelam dalam arus informasi yang tak pernah habis. Mungkin itulah sebabnya aku tidak bisa berdiri di atas mimbar dan menghakimi siapa pun. Aku adalah bagian dari cerita yang sedang kuceritakan.

Meski demikian, sesekali aku merindukan kesederhanaan. Merindukan saat sebuah ponsel hanya digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan. Saat baterai mampu bertahan berhari-hari. Saat orang lebih sibuk mengamati langit daripada mengamati layar.

Teknologi akan terus berkembang. Kecerdasan buatan akan semakin pintar. Layar akan semakin tajam. Jaringan akan semakin cepat. Semua itu mungkin tak bisa dihentikan, dan mungkin memang tidak perlu dihentikan.

Yang perlu dijaga adalah manusianya.

Karena sehebat apa pun teknologi yang kita ciptakan, ia seharusnya tetap menjadi alat, bukan tuan.

Dan seperti untaian padi yang semakin berisi semakin menunduk, mungkin manusia modern pun perlu sesekali menundukkan kepala. Bukan untuk menatap layar, melainkan untuk mengingat apa yang benar-benar penting dalam hidupnya.