Pendekar Antalawing

Dari puncak bukit Candilaban, Kosim memandang ke arah bawah di kejauhan, terlihat perkampungan penduduk yang cukup ramai. Mentari senja merah tembaga perlahan surut di cakrawala. Suara malam mulai riuh rendah mulai angge-angge, cicir, walang kerik hingga kurwok menambah suasana malam semakin mencekam. Kosim menghela nafas sambil memegang tongkat kayu dari akar tanaman mbulu payung yang ia dapatkan sewindu yang lalu dari bukit Antalawing. Saat ini ia mengembara meninggalkan kampung halamanya dari daerah Pajajaran untuk berguru kepada seorang nenek sakti di daerah Jawa, yaitu kadipaten Talaga. Di bawah sana lampu minyak dari rumah-rumah penduduk mulai memancarkan cahaya berpendar ke arah bukit. Kosim naik ke atas pohon dan bermalam di sana.

Sekar, seorang gadis belia belasan tahun berlari kecil membawa rantang logam batik hijau dua susun. Sepasang mata mengintai dari bali pohon dan membuntuti gadis itu. Tiba-tiba gadis itu berbalik arah dan mendapati seekor gogor siap menerkamnya, Sekar menganga ketakutan dan rantang itu jatuh ke tanah, isinya berhamburan beruba jangan lentre penuh biji yang sangat menggoda, terdapat beberapa biji petai pilihan. Gogor itu berhenti dan mengendus, "kau mau kemana gadis kecil?" binatang itu rupanya bisa bicara. Sekar semakin ketakutan dan dari atas pohon berkelebat cahaya putih mengayunkan tongkat ke arah Gogor dan seketika binatang itu mak cling lenyap entah ke mana. Sekar mundur beberapa langkah menyaksikan kejadian itu, sambil bersandar di rerimbunan perdu kriinyu. "Kau tidak apa-apa, gadis kecil?" tanya seorang pria berjubah itu. "ti..ti...tidak papa, paman.. engkau siapa?". "Syukurlah, mau ke mana rupanya, sendekala begini pergi ke hutan?", "Mau antar jangan lentre kesukaan Ayah di Mbangkulon yang sedang bekerja". "Baiklah, mari kuantarkan.." Pemuda itu menawarkan. Tiba-tiba dari arah pohon binatang itu muncul lagi dan menyerang sang penolong gadis, dan secara cepat pemuda itu menangkap gadis dan bermaksud membawa lari dan terbang, tapi dorongan kepal gogor itu terlalu kuat dan pemuda itu tergelincir dan menggosor ke tebing. "Tidak...toloooong...." teriak si gadis yang disangkutkan di perdu krinyu.

"hhhhh... hzzzzz.. rupanya aku bermimpi" gumam Kosim terbangun dari tidurnya di atas pohon. Hari sudah siang dan ia menuruni bukit ke arah kali Sompok. Gemercik air yang jernih berbagai ikan bermunculan di pinggir sungai, terlihat ada licing, lunjar bahkan Salmon yang sedang melawan arus ke arah hulu untuk bertelur. Kosim menangkap beberapa ekor ikan untuk ia panggang di tepi sungai. Terlihat beberapa mahluk pejajaran sedang memandikan anaknya sambil tetap mungkur dan tidak pernah memperhatikan raut mukanya. Beberapa lainya sedang sibuk mencari yuyu kangkang atau kepiting untuk santapan mereka. Asal tidak mengganggunya, mereka adalah mahluk yang baik. Kosim membuat perapian lalu membersihkan tubuh lalu memanggang ikan sampai matang. Sudah hampir setengah hari ia berjalan menuju ke arah perbukitan Penanggungan yang sangat rimbun oleh pepohonan Mbulu. Beberapa saat kemudian ia sudah berada di puncak Penanggungan dan melihat sekililingnya membuat ia takjub akan keindahan alam kampung Talaga. Pegunungan Antalawing yang ia tuju masih terlihat membiru pertanda masih jauh dan perlu 2 hari berjalan kaki. Kemudaian Kosim memasukan tongkat ke dalam baju belakang dan secara ajaib punggungnya bersinar terang, lalu dari kedua centongan punggungnya tumbuh bulu-bulu yang panjang seperti rajawali, lalu ia terbang di atas perkampungan Jambenom Lor. Rumah-rumah panggok terlihat sangat kecil, tak perlu banyak waktu Kosim sampai di bukit Antalawing.

Tongkat ditarik kembali dari balik bajunya, seketika bulu-bulu rajawali mengkirut ke balik punggunya. Entah teknlogi macam apa yang bisa demkian canggihnya di jaman seperti itu. Sebuah gubuk cukup besar bercokol di atas dahan pohon Weringin. Seorang nenek berjubah putih melompat dari gubuk dan menyambut Kosim si pendekar Antalawing.

"Sekar, ambilkan wedang kita kedatangan tamu." kata si Nenek kepada seorang gadis kecil yang tengah bermain bersama kelinci di bawah pohon. Kosim terhenyak dan seperti tidak percaya, ia mulai bergumam, bukankah gadis itu yang kutolong dalam mimpi kemarin?

Siapa gadis itu?

......bersambung mbuh kapan.