Kekacauan tak terduga

Merantau jilid 2 bukan lagi soal mengumpulkan harta. Tapi tentang mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga, no insurance no billonare deposit. Sesuai kebutuhan saja, mungkin ini salah tapi ini memang trial and error, mengimplementasikan apa yang dinamakan Rejeki Illahi tak kan pernah berkurang ataupun tertukar. Berapa keperluanmu, itu akan dicukupkan. Banyak sudah pelajaran yang bisa kuambil dari teman2 atau orang2 sebelum kami, bekerja tak kenal lelah, peras keringat banting tulang, mengumpulkan harta benda, ikut semua asuransi, bermegah2, toh apa yang dia bawa dan pakai.. rasa dihormati dan dihargai karena harta, kurasa tak perlu kubanggakan. Pembenaran ini bukan tanpa alasan, tapi rasanya hidup lebih santai, dan nikmat. Aku sudah pernah menggebu2 mengejar sesuatu, kini biasa saja. Allah maha tau dan berkehendak kekayaan duniaku berupa anak2. Jika orang2 pergi pagi pulang malam dan bertemu anak istri, aku juga akan berbuat seperti umumnya hanya saja tidak setiap hari, tapi sesering yang kubisa. Betapa tidak bergunanya seorang kawanku yang merantau dengan kepulangan hampir 6 bulan sekali, paling cepat 3 bulan sekali. Tapi awal tahun lalu ia sakit kronis dan meninggalkan luka mendalam bagi anak2 dan istrinya. Apa yang ia usahakan selama hidup seperti tiada arti. Aku harus ambil contoh dari hikmah itu.

Menghemat ratusan ribu untuk menahan diri tidak pulang dengan membuang ratusan ribu tapi berkumpul dengan anak istri adalah harga yang tidak bisa dibayarkan dengan nilai uang berapapun.
Semua bayangan2 tentang kesendirian di tanah rantau tak lagi menjadi hal yang melankolis setelah satu gerbong atau satu bangku dalam bus, bertegur sapa dengan setiap pria yang menuju ke Ibukota adalah hal yang tidak berbeda bahwa mereka juga sama2 sedang berjuang. Maka aku tidak lagi merasa sendirian.

Minggu sore, 4 mar 2018 hujan dengan petir menggelegar, jarum jam menunjukan pukul 15:25, berkumpul di ruang tamu. Hanif menyiapkan diri, ibunya di dapur juga sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk para pria yang akan pergi menuntut ilmu dan rejeki. Tak banyak yang kubawa cuma sehelai celana panjang dan jaket yang dimasukin ke tas. Hujan lebat ini akan kuterjang dengan memakai celana pendek, kaos butut dan baju bagusnya di dalam tas nanti salin atau ganti baju di terminal. Waktu yang sempit sudah siap semua, sudah bersalam2 dan kugendong si kecil lalu kuturunkan. Dan bersiap memanaskan motor, kunci kontaknya raib. Semua sibuk mencari, dan aku yakin tak memasukanya ke dalam tas, tadi ditaro dimeja. Semua orang mengeluarkan kembali isi tas masing2. Setelah semua bingung, sambil cengar cengir si kecil ngAfifa Nahda menenteng kunci motor dari dalam kamar. Tadi juga ditanya katanya gak ada, ola ana katanya. Kami pamitan ulang, dan wuzzz aku mengantar hanif sekalian mampir terminal, 1 jam perjalanan dengan semua tobil dan bawahan basah semua. Sampai jam 1800 lalu melepas hanif di kejauhan, aku bergegas ke kamar kecil. Nikmat sekali kadang2.