Pendekar Sosmed

Perjalanan hidup manusia di dunia ini tak lepas dari dimensi waktu, sebut saja dimulai pagi hari bangun dari tidur karena kokok ayam pejantan atau menhirup aroma kopi yang disiapkan sang istri. Kok jadi seperti di iklan. Bukan...bukan begitu ceritanya. Terlalu umum dan kekinian, aku jadi seperti kehilangan jati diri. Baiklah, rewind... xcjansjcnjchucaiucz

Sebut saja dimulai pagi hari suara azan subuh berkumandang dan disusul ayam pejantan berbunyi, mengerjakan sebagai bentuk kepatuhan kepada Ilahi. Karena alam raya ini pada dasarnya berputar mengelilingi sesuatu tidak ada yang berani melawan. Dari pagi ke siang mengerjakan abcd, dari siang ke sore mengerjakan efghij, dari sore ke malam dan seterusnya, mengukir waktu. Namun kalau boleh diringkas kisah hidupku sesungguhnya soal rumah, anak-anak, teman2 yang hangat, lingkungan bersahabat. 

Pikiran ruwet terjadi karena otak dipaksa dijejalkan aneka informasi yang sebenarnya tidak begitu diperlukan. Ngandroit ini seharusnya sudah cukup dianggap smartphone, tapi janganlah lantas yang megang jadi bodoh. Otaku kini mudah lupa terhadap sesuatu, karena malas mengingat alasanya juga tidak oke banget, tinggal gugling beres dah. Dulu bisa ingat nomor2 hp teman, sekarang mana ada? semua tinggal search ketik nama, keluar semua. 

Tidak seperti microsoft windows masih ada tombol bantuan meski ketika kita membutuhkan bantuan spesifik dan mengetiknya yang keluar berbeda dengan harapan, tapi seperti ada interaksi antara pengguna dan tekhnologi. Pendekar sosmed kini terus membenamkan diri makin ke dalam dan sulit lepas dan naik ke permukaan melihat sekeliling. 

Semua hal memang serba sedikit demi sedikit, tapi ketika ia konsisten dilakukan maka menjadi kebiasaan. Iya kalau hal positif, menabung misalnya, atau infak misalnya, atau baca kitab suci. Orang-orang jadul yang tidak pernah ada basic tekhnologi lalu berkenalan langsung dengan hp pintar, wah pasti pengguna lama yang malang melintang akan dibuat geleng-geleng kepala ketika melihat kiprahnya sebagai pendekar sosmed. Mereka pertama malu-malu, tapi semakin hari semakin tergoncang oleh kelezatan candu dunia maya. Maka yang sudah berumur seperti muda lagi, dan yang masih belia akan mendewasakan diri.

Pendekar sosmed kawakan macam aku ini cukup menonton dari radius puluhan KM, kalau tidak ada yang memanggilku sebagai pemerhati lingkungan maya, maka izinkan aku menyebut diri sebagai Mamang Kuraya.