Dasar

Kalau dasarnya pinter ya pinter, kalau dasarnya jadi orang sukses ya sukses, kalau dasar mesum ya mesum, kalau dasarnya suka selingkuh ya selingkuh. Begitulah dasar-dasar ungkapan atau ekspresi kebanyakan orang tanpa mau lebih memahami situasi maupun alasan kenapa begini dan begitu. 

Sebagai mantan IT di perusahaan shipping ternama, meski tidak terlalu jauh tapi setidaknya mengikuti perkembangan teknologi informasi, dalam hal ini computer dan HP. Juga sebagai manusia yang mahluk sosial saya sering kali memperhatikan lingkungan sekitar, meskipun diri sendiri jauh dari kata sempurna, karena menilai orang memang lebih gampang. 

Kemudian ng-Androit datang dengan update begitu cepat dari versi ke versi, dengan nama dan lambang makanan manis. Maka ngandroit membuat kehidupan banyak orang terlihat manis, seperti kae wong. System operasi ini mendobrak kebiasaan orang-orang, baik orang awam maupun orang yang sudah canggih. Bagaimana tidak, orang awam kalau disuruh belajar computer pasti akan mengeluarkan seribu alasan bahwa computer itu rumit dan susah, tapi memegang HP android mereka langsung mencoba belajar mulai dari menghidupkan, mengoperasikan start, menu, aplikasi hingga men-shut down gadget. Saya bilang ini adalah wadah, atau senjata. Ya, senjata manusia jaman sekarang, maka ketika seseorang tidak bawa senjata dapat dipastikan akan merasa gelisah, salah tingkah dan magay alias mati gaya. Jadi dasar-dasar yang diutarakan di atas sekarang sudah bisa sedikit dipetakan namun tidak bisa dimaklumi. 

Begini penjelasanya.....
Orang yang sangat pendiam, penakut dan minder ketemu orang namun pelan-pelan tapi pasti, ketika sudah pegang ngandroit atau smartphone dengan OS lainya menjadi lebih aktif. Gampang ber-ekspresi. Ini semua saya amati dari tahun ke tahun, ketika orang di kampung mencibir FB, WA dan lainnya, kini hampir semua orang membuat akun FB dan nomor HPnya pasti aktif di WA. Nggak usah bilang anak muda, sekarang yang sudah tua, pemain pemula dunia maya makin tidak terkendali dalam membuat status, atau komentar. Senjata yang ampuh untuk kebanyakan orang, seperti saya. Sebagai pengobat redam gejolak LDR misal, atau nyrempet-nyrempet komen kepada orang yang dianggap baik, lucu, cakep dll. Bertahap demi bertahap, kata-kata sakti mulai dihembuskan, seperti: cuma hiburan, nggak sampai ke hati, cuma dumay gak bakal ke dunia nyata. Iya itu semua betul memang, tapi nagih dan nagih semua orang merindukan percakapan dan komunikasi. Gerbang itu mulai terbuka, orang yang sangat menjunjung tinggi nilai adab, susila, tata krama dengan mudah menjadi gampang berkomentar, nimbrung, tergiring ke jalur pribadi. Lalu terjadilah saling berkisah masa lalu, bla..bla.. Maka "dasar"orang A, B, C D dan nganu itu bukanlah fakta mendasar. Semua berkembang dan tergantung dengan siapa kita berkecimpung. Hebat!! kalau mereka yang aslinya begitu baik menjaga tata krama dan nilai2 agama dan bertahan meskipun punya senjata atau baskom tekhlogi tersebut dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari jemari.

Kalau dasarnya tidak mau selingkuh, mau main FB, WA sehari semalam kalau dasarnya tidak ya tidak, Nah ini baru dasar yang ok, yang tidak dimiliki seorang Mamang sekalipun. Tercemar dan sulitnya berlepas diri dari residu teknologi (jejak digital).