Rasanya Ibu Kota sudah lengang, para warga DKI sebagian besar mulai memadati arus mudik, baik menggunkana moda transportasi Kereta Api, Pesawat, maupun kendaraan pribadi. Mustahil kalau saya tidak merasa iri melihat orang lain lebih sukses (lagi-lagi dunia membutakanku), lalu menghibur diri dengan melucuti semua keinganan muluk. Entah di mana beda antara muluk-muluk dan optimis.
Kabar baiknya, lebaran tahun ini hentakan mudiknya tidak terlalu kuat seperti tahun-tahun sebelumnya mungkin karena sudah terlalu tua untuk merasa eksyaited. Jadi dibawa santai, tidak juga bergegas mencari rebig (pakaian -red). Mau ngapain? semua seperti sedang eforia dengan glamornya dunia, lupa akan hakikat bulan suci dan Hari Raya. Ajang pamer akan selalu berulang dan meimbulkan keresahan bagi sebagian lainya. Nanti kalau sudah ekonomi merata seperti katakanlah Jepang, atau Eropa pasti semua akan biasa-biasa saja. Lah semua punya mobil, punya rumah bagus, pakaian bagus. Kejiwaan masyarakat akan tertata, persainganya tinggal mengarah ke kompetisi dan kompetensi produktif.
Ketika di ujung Ramadan segera berlalu, team Priok tetap bisa menikmati acara bukber jilid 2 di Bandar Jakarta Ancol dengan khusyuk tanpa pikiran ini melanglang buana ke Kampung halaman. Harapanku semoga bisa bertemu kembali dengan bulan Suci. Meski hidup sendiri, tetap saja sepi...