Mencorong, dan kekejaman era Digital

Rawen membanting henpunya demi melihat layar sentuhnya tidak bergeming setelah lebih dari lima menit tidak kunjung menerima balasan dari pujaan hatinya. Sudah 4 baris yang ia ketik, sementara di pojok atas layanan pesan singkat yang dikenal sebagai Wasrap muncul tulisan online. Mencorong adalah bahasa sansekerta jawa kuno untuk keadaan dimana ada tanda berupa menyala, ataupun aktif.
Banyak kisah seru terjadi hanya dari sekedar status mencorong seseorang, hampir dipastikan semua orang mengalami salah sangka dan mengarah kepada pertengkaran. 

Pertengkaran yang tidak perlu mendera kebanyakan pasangan yang terbentang jarak, entah itu suami istri, ataupun pasangan kekasih. Ketika sudah mencorong, Rawen kira dunia hanya milik berdua namun rupanya di seberang sana Kosim (bukan nama sebenarnya)  tengah berkirim pesan dengan kolega ataupun bosnya dan tidak mungkin diabaikan untuk melompat ke sana kemari. Berbagai pertanyaan yang harus dijawab kalau sudah menyangkut pekerjaan harus dilakukan secara fokus, tepat dan cepat. Maka ketika ada pesan pop-up di atas dan ia tahu Rawen yang mengirim ia sengaja mengabaikan dulu karena ia tahu betul prioritas dan cara membujuk korban mencorong yang tiba-tiba menjadi galau akut.

Penyakit jiwa dan pikiran sedikit demi sedikit mengalami penetrasi, tekanan hidup kelas ringan berupa kesuh, kesel, stress, prasangka menggerogoti jiwa baik manusia. Tak jarang akibat mencorong yang terlalu lama akan memberika dampak luas di kehidupan nyata. Penjelasan di ruang chating tidak membantu menyelesaikan persoalan. Rawen harus ketemu dengan Kosim, dan itu perlu waktu beberapa hari ke depan untuk bisa ketemu.

Rawen memungut kembali henpunya yang ia banting di samping bantal tadi, dan mendadak ada rona senyum di bibirnya, pesanya sudah dibaca, sedetik kemudia merengut lagi karena tidak ada balasan sedikitpun. Lalu ia tak sabar dan menelponya, Rawen semakin beringas demi mendengar nada sibuk dan muncul tulisan sedang panggilan lain. Uring-uringan ini terus berlanjut hingga azan berkumandang. Ia mulai tidak menghiraukan panggilan azan, hatinya semakin keras terbungkus syakwasangka tak guna. Padahal Kosim sedang negosiasi potensi nilai transaksi ratusan juta rupiah demi membahagiakan Rawen pujaan hatinya. 

Hingga kisah ini duturunkan, Rawen masih belum berani membuka henpon padahal ia melihat ada kedipan tanda ada pesan masuk. Trauma digital ini kompak melanda beberapa orang yang punya kecenderungan hal serupa. Aksi balas dendam ini akan memperkeruh suasana, Kosim kelimpungan setelah pesan yang ia tulis sebanyak 8 baris soal kabar gembira itu diabaikan. Lalu Kosim menelpon Rawen pakai jalur non data, tapi entahlah Rawen begitu terpukul akan sikap kekasihnya yang tega mengabaikan pesan wasrapnya. Berat dan tidak berujung memang kalau kisah ini dibumbui drama yang terus menerus agar ada nuansa romantikanya. Karena hal sangat sederhana ini bisa dipecahkan apabila keduanya saling sabar dan mengerti satu sama lain. Hidup di dalam kenyataan juga kerap kali kita berjumpa dan berpasan di pengkolan, perempatan, sawah atau di clebekan sekalipun, toh dari dulu saat kita sedang ngobrol dengan orang lain, orang dekat kita tidak ada masalah apa-apa. Ternyata kuncinya cuma satu yaitu kepercayaan. Kalau sudah percaya ya sudah mau diapain, bahkan kita tidak bisa menghardik orang yang tidak percaya bahwa Kosim sebetulnya jelmaan Tumenggung Kartanegara dan Rawen adalah siluman Nyi Ragarunting yang menjelma dan mengarungi tembok waktu masa depan. Karena di jaman kerajaan dulu semua telepati menggunakan media air dan tangan untuk bisa vicol. Sampai di sini, Rawen mulai mencair, ia tidak lagi kaku seperti tadi, jiwa kewanitaanya muncul sebagais sosok lembut dan penuh kemesraan, ia pelan-pelan membuka henpun dan membalas obrolan Kang Mas Kosim yang sudah mentransfer sejumlah uang untuk kebutuhan di rumah. Tak henti-henti terlihat Rawen menciumi layar ngandroit.

tamat