Grubugan

Masa peralihan musim di Nusantara biasa terjadi bertepatan pada masa libur anak sekolah setelah kenaikan kelas atau kelulusan. Pergantian Th pelajaran baru menjadi siklus tahunan di setiap sekolah di seluruh Indonesia. Di masa tersebut selalu di bulan Juni/Juli, ketika alam juga berganti dari musim hujan ke musim kemarau. Rerumputan menebal di sepanjang jalan dan pematang sawah, embun pagi deras menetes dari tanaman liar dan dedaunan. Menjelang jam 6 pagi pedut turun, yaitu kabut putih seperti kapas yang menyelimuti pegunungan hingga atap rumah-rumah penduduk. Para petani mulai sibuk pergi ke sawah untuk memetik hasil panen padi menguning. Burung-burung prit dan berbagai burung pemakan biji-bijian sibuk hilir-mudik mengangkut logistik untuk musim kemarau mendatang dan menuntaskan eraman telur untuk generasi berikutnya. Sebentar lagi pepohonan meragaskan daun-daun, rumput mengering, sawah-sawah gersang, demikian gambaran alam di kampung halaman yang nanggung secara geografis karena hanya 350-400 dpl, tadah hujan namun ada hawa dingin ketika sore menjelang dan berlangsung hingga pagi menjelang. 

Masa-masa tersebut ada yang menanggapinya sebagai moment yang indah karena anak-anak semua libur sekolah. Mereka mengisi berbagai kegiatan sesuai dengan apa yang mereka sukai, ada yang berlibur ada yang hanya di rumah membantu orang tua.

Hal ini mengingatkanku puluhan tahun lalu ketika masih kecil dimana ketika bulan Juni saat libur kenaikan sekolah selalu disertai grubugan. Apa itu grubugan? adalah angin yang berhembus kencang, pohon nyiur melambai, mulai musim layangan, hawa yang adem tp teriknya menyengat. Hari-hari adalah bermain karena musim tersebut nyaris tanpa ada hambatan berarti. Jalanan kering, huma di atas bukit juga kering mau bermain apapun pasti bisa dilakukan. 

Grubugan tahun se-milenial ini masih tetap ada, anginya sepoy ketika pagi dan makin kencang ketika siang menjelang.