Perpanjang SIM 2019

Aku menyangka kalau hari lahirku tidak ada yang menyamai, atau paling tidak sekedar merasa istimewa. Itu bukan tanpa sebab, man... itu semua terjadi karena hari kerja yang kupakai cuti untuk ngurus perpanjangan SIM adalah eman-eman, atau bisa dibilang sia-sia. Maka menyangkakan diri bahwa yang akan ngurus sim hari itu adalah cuma aku sendiri nyatanya cuman isapan jempol belaka. 

SIM A ini kubuat 4 tahun 11 bulan yang lalu dibantu oleh seorang teman kecil, para peri dan bidadari mentertawakanku kenapa repot-repot bikin SIM, mobilpun tak punya. Orang seoptimis ini kok digebis-gebis oleh provokoasi murahan macam itu, ya tidak mempan, gumamku saat itu. 

Berangkat pagi sekali dari J-Lo, kuajak serta anak istri agar perjalanan ini berkesan. Idealnya memang begitu, di tanah rantau ke mana-mana sendirian seperti bujangan. Tentu kali ini tidak kusia-siakan momen itu. Pembarep tentu tidak ikut serta dia lagi persiapan ujian lulusan SMA, pengemban juga tidak ikut karena sudah UTS di SD. Maka cuti ini kumanfaatkan untuk ngajak jalan-jalan si kecil dan bontot, karena kuyakin hari Jumat adalah hari pendek tentu terbayang kecepatan birokrasi di jaman serba E ini.  E...ladalah... sampai Purwokerto kota jam 0800, ku telp ponakan Panji Ketawang, dia bilang, " Lik, ngurus surat kesehatan dulu di satlantas dekat Tugu, depan jalan Adiyaksa. Lalu laju kendaraan kupacu ke arah timur bermaksud ke Mal Pelayanan Terpadu, tapi urung kulakukan karena keburu menemukan Satpas yang dituju. Set... parkir dan dengan pede ke front desk, dan ketemu gadis berkerudung berseragam biru, sambil menuduk sopan dia menanyakan maksud. Ku jawab perpanjang SIM A, dan dia mempersilakan untuk membuat surat kesehatan dulu di seberang dengan syarat foto copy KTP, dan SIM lama dan map biru.

Menuju Satlantas, tercengang demi melihat kerumunan antrian orang-orang di sana. Sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukan jam 09:10, aku dengan sigap ke kios 'rekanan' ber plang: FOTOCOPY' di sana sudah ada pria-pria yang sudah lincah siap membantu, 5.000 rupiah untuk 1 copy KTP, SIM, MAP, dan 1 bolpen warna-warni. Lalu menuju ke ruangan dimana terdapat banyak orang keluar masuk, rasanya itu ruang pemeriksaan. Kupencet tombol mesin antrian dan dapat nomor 188. Emezing nian hidup ini, tetap saja memang harus kulalui kisah ini. Suara mesin panggilan terdengan nomor antria tujuh puluh delapan. Di situ kadang ingin kembali ke masa remaja yang bebas berkelana. Dengan gontai kuarahkan kaki menuju penjual kopi, kupesan kopi sambil menghisap kejenuhan, seskali kukabari istri yang pasti lelah menunggu di SATPAS seberang sana. Setelah hampir 2 jam menunggu, tiba giliran nomor urutku dipanggil lalu ditumbang bagai di Posyandu, lalu diukur tinggi badan, lalu ditensi, lalu di test mata yang huruf E,V, Z tidak beraturan besar kecilnya, semua lolos dan membayar IDR 40.000 benar-benar test yang formalitas. Selembar kertas kudapatkan dan kembali ke SATPAS untuk proses berikutnya.

Di Satpas, ku isi formulir yang diberikan petugas isi data dan diserhakan lalu membayar di loket IDR 80.000, dan map terlihat dibalik untuk menyusun no antrian, eh mas petugas bilang habis juamatan ya? oh tidak bisa, saya komplain sambil memelas, rumah jauh sambil menggendong Al-Rubby, dia langsung luluh dan diambil kembali mapku, dan mempersilahkan ke ruang dalam belok kanan, dan dapat nomor antrian lagi 167, ini bener-bener double emezing, guys. Di ruangan ini ada 3 meja 3 komputer dan 3 petugas, untuk verifikasi data saja sepertinya, lalu kalau yang sudah selesai diarahkan ke Lt. 2 untuk sesi pemotretan, sampai giliranku 167. Setelah foto ke mana? ke ruang cetak SIM
dan jam 1300 kelar sudah, Alkhamdulillah SIM baru sudah masuk dompet dengan manis.

Setelah perjuangan usai, perut lapar tapi jumatan lewat kubaca istighfar berkali2 mudah-mudahan diampuni. Pergi ke Sokaraja untuk makan Sroto di sana. 

Bersambung....
ari gelem soten