Hitungan hanya beberapa tahun yang lalu dan masih teringat betul aku antusias menggagas internet bisa diakses dari kampung pinggir hutan pinus. Saat itu sinyal hp masih 2G bisa nelpon dan sms pun sudah membuat hubungan LDR seperti direstui bumi. Kendala komunikasi bisa teratasi dengan hadirnya henpon. Lalu terbang lagi ke kota menikmati akses internet dengan mudah, baik di tempat kerja maupun melalui HP, meski belum ngAndroit tapi bisa akses GPRS dengan cepat.
Hari berganti dan tahun berlalu, kebanggaan ketika bisa mengajarkan internet ke lingkungan sekitar, cara membuat email dan memulai daftar sosmad-sosmed. Terlintas saat itu hanya kebahagiaan dimana desa terpencil sudah bisa menikmati internet. Dan saat ini jangkauan wifi sudah ke segala penjuru, internet sudah menjadi kebutuhan penting dan dipenting-pentingkan.
Perasaan bersalah kini mulai terasa, karena desaku mendadak seperti kota besar. Orang-orang sudah mulai cuek dan syahdu tertunduk dengan layar gadgetnya. Acuh tak acuh mulai merangsak kepada generasi bocah. Bocah kecil yang seharusnya berlarian ke sana kemari kini banyak terdiam duduk menikmati blackpink, ledidgo frozen, dll dari youtub. Alis mereka mengembang dan mengkerut mengekpresikan apa yang mereka tonton. Larangan Ibunya seperti ancaman dan membuat mereka meronta-ronta.
Lalu bagaimana?
Cara terbaik menghapus kebiasaan buruk adalah dengan membuat kebiasaan baik terus menerus. Rasanya ingin mengembalikan jaman desa rasa kampung seperti dulu. Atau bagaimana? nanti dikira antimilenial, dikira anti keterbukaan. Memegang erat adat, agama dikira intoleran dan radikal, maka pilihan terakhir adalah ikut arus dan itu seburuk2 sikap.
