Ramadhan Season 2019

Ramadhan tahun ini dimulai pada tanggal 06
Mei dan diperkiraan akhir puasa pada 05 Jun ditandai dengan Takbiran. Apa yang terasa mengarungi rangkaian hikmah bulan suci di era digital plus plus ini? pakai plus-plus segala. Ya iya, itu kan ada game online, sosmed pun beraneka ragam mulai FB, W/A, Instagram. Bahkan banyak lokasi yang dianggap sebagai instagramble atau instagramable. Maksudnya entah supaya bisa masuk instagram atau lokasi tersebut bersifat keinstagram-instagraman. Sama halnya aku memikirkan iklan kosmetik dan model dengan wajah ayu nan kinclong. Apakah si penjual kosmetik ketika menemukan wajah ayu itu akan disebut kosmetible atau bagaimana. Padahal sebelum pakai kosmetik tersebut orang itu sudah cantik dan kinclong sejak kalbu. Kalbu itu bahasa jawa sesuatu yang terbawa sejak lahir baik bakat, rupa dan sebagainya. 
Lalu kalau ada baju yang dicoret-coret misal saja, bersih, jujur dan merakyat itu konsep awalnya seperti apa? aku masih bingung dengan baju yang beriklan tersebut. 

Ramdhan tahun ini seperti oase ditengah sahara politik yang baru saja dihelat, yang menghasilkan dua sisi. Jika kaset ada side A dan B semuanya bisa diputar untuk menghasilkan lagu berbeda, kalau ini aku sekarang malah bingung sendiri, sebetulnya aku di sisi yang mana?

Masih saja ada yang fanatisme kalut dan membabi buta membela, padahal cukup dilihat secara kasat mata saja tak perlu canggih2. Lihat segala ucapan dan tindakan sehari-hari, cara menghadapi media, cara menjawab pertanyaan. Dari situ kita lihat bagiamana kepemimpinan yang ideal. Indonesia sudah menyatu sejak dahulu kala, kenapa sekarang seperti begitu mudah berai oleh perbedaan pilihan? Aku menulis ini bukan karena ahli politik, bukan sama sekali. Tapi bagian dari rangkaian rakyat Indonesia yang merasa prihatin dengan kondisi bangsa akhir-akhir ini. Aku percaya banyak yang ahli dan sedang mengusahakan dengan cara sah dan penuh hakikat, tanpa aku mengeluarkan unek dan pikiran pun mereka sedang bekerja untuk itu.

Sekarang tinggal bagaimana berupaya puasa dari tahun ke tahun lebih berkualitas. Yang dulu masih emosi ketika berbuka, gelap mata semua ingin dilahap, sekarang lebih santay. Berurutan dan mencoba mengikuti sunnah Nabi. Air putih hangat, dan ganjilnya kurma. Jika tak ada kurma, buah-buahan penghasil gula alami. Nah... cuma Trawehnya nih suka ngeyel, maunya nuruti hawa nafsu, padahal Masjid pada kompak 23 rokaat termasuk witir, nah aku kok 8 saja cuma gara-gara lihat beberapa orang berdiri dan pergi meninggalkan shaf. Otak tengah membenarkan gaya mereka, dan ikut-ikutan, lalu di rumah ngapain? ngabisin sisa-sisa makanan buka sore tadi. Tadarus hanya lembar-lembar tak seperti di Masjid-masjid bisa sampai malam dan mungkin terarah karena ada Gurunya.

Masih setengah Ramadhan lagi, nanti malam purnama semoga Ramadhan berikutnya lebih baik lagi. Aamiin
Barusan vicol di rumah lagi pada bikin nastar, kelihatanya seru. Hanif jagain Rubby, Alya bantuin mama, Nahda yang ngacak-acak semua.