DIR GOMPEL

Di saat warga desa sedang sibuk mempersiapkan pergi ke ladang, pedut pagi menipis terbang perlahan menuju lembah, aroma tanah basah begitu harum. Dug..!! sekonyong-konyong terdengar suara bumi berguncang, Kosim dan teman-temanya sedang bermain dir-diran atau kelereng. Lobang selebar tumit kaki bocah menganga di atas halaman rumah. Mereka berlima sedang asyik membuat aturan dan cara bermain. Lobang adalah sebagai pusat orbit untuk kelereng2 yang melesat setelah dilempar para peserta dolanan. Jarak dari lubang dan garis lempar biasanya 10 depa atau 10 langkah, dan barang siapa yang lemparanya paling mendekati lubang, maka dia berhak sebagai pemain pertama untuk memulai keseluruhan rangkain permainan kelereng ini. Kilan adalah ukuran jempol yang dibentangkan dari titik kelereng kita ke arah jari manis yang diujungnya adalah kelereng teman kita. Beberapa istilah khas dalam dolanan ini adalah: Blep, kontalidi dur, lainya tidak banyak yang bisa diingat. Dari itu semua kejujuran menjadi hal paling penting disemua dolalan klasik tersebut, pun berlaku pada permainan dir. Karen apabila dir kita gompel atau rompal sedikitpun pasti itu tidak bisa untuk diikutsertakan dalam permainan. Dir dianggap afkir, harus menyingkir. Dir harus mulus tanpa sedikitpun cacat.

Musim dir-diran tidak akan berlangsung lama karena dalam waktu 3 bulan mendatang halaman rumah warga desa buat jemur aneka ragam hasil bumi. Geribig akan bertebaran dan tak pelak lagi Kosim dan kawan-kawanya akan sibuk disuruh tunggu manuk. Padahal sebenarnya adalah menunggu jemuran padi agar tidak dijarah unggas. Dolalan pada masa 80-90 masih mengandalkan keberadaan sentuhan fisik, kerja sama team dan komunikasi verbal yang baik. Dan uniknya musim dolanan akan mengikuti musim atau kondisi alam. Kapan harus bermaian egrang, kapan saatnya harus bermain layangan, kapan harus bermain gobak sodor, kasti, petak umpet dll.

crot