Getun adalah bahasa Jawi alus, biasanya dipakai oleh penduduk di Jawa tengah dan timur non mBanyumasan. Kalau bahasa ngapaknya adalah ngungun perasaan menyesali terhadap situasi yang eman2 / sayang jika tidak ikut, dan atau tidak melakukanya. Misal: waduh tadi di toko itu HP Semsang S10 cuma 11juta, udah sampai jauh sini mutar muter malah harganya 12juta, getun rasanya. tidak beli di toko yang tadi. Atau, waduh getun banget kenapa sudah dibayar tapi barang tidak jadi dikirim.
Getun sama halnya penyesalan pada umumnya selalu terasa belakangan setelah semua terjadi. Sama halnya dengan gestun, adalah kegiatan transaksi keuangan dengan cara menggunakan kartu kredit dengan tujuan mendapatkan uang tunai. Gestun, gesek tunai bukan hal baru di jaman ini, banyak orang melakukan upaya ini karena darurat terhadap kondisi finansial. Tapi langkah ini cukup beresiko apalagi terhadap orang-orang yang tidak disiplin dalam hal pembayaran hutang. Meski dicaci, cara ini kadang aku tempuh karena sering kecewa jika kenyataan meminjam uang kepada kerabat, atau saudara tapi tidak direspon poisitif. Selalu kalau dalam urusan ini, kita sering berbaik sangka bahwa ah, nggak mungkin dia tidak punya duit, sambil bergumam lihat rumahnya magrong-magrong, lihat tongkrongan kendaraan roda empat dua pasang, trail KLX yang gagah garang, mana mungkin tidak punya uang cuma buat keperluan anak sekolah karena harus melunasi uang Gedung, date line tanggal sekian kalau tidak maka jangan harap bisa ikut ujian. Fix, tidak punya katanya. Kecewa? tentu saja sangat kecewa, harusnya manusia itu gantian salaing menolong apalagi saudara dekat. Maka keikhlasa masa lalu kalau menghadapi hal yang terjadi saat ini seperti menelan ludah sendiri. Karena kita tidak siap diperlakukan seperti itu. Padahal saat orang itu sedang merangkak dan berjuang dan meminjam uang kuberi tanpa mikir panjang, tapi diluar dugaan setelah jadi orang dan punya jabatan uang tak seberapa itu sulit dipinjam.
Berangkat dari situlah, aku menggunakan pihak ketiga yang lebih legal, mungkin sisi rentenya jelas ada, tapi apa mau dikata kalau sudah sangat perlu maka daripada meminjam kepada orang atau saudara yang saat ini daya tolong menolongnya sangat kurang, lebih baik meminjam secara resmi dan jelas transaksinya, yang penting adalah kedisiplinan setelahnya. Nominal berapapun kalau dirasa bisa ukur diri serta bisa dicicil tiap bulan, maka gestun menjadi pilihan yang sulit dihindari.
Dikiranya harta yang banyak tapi memperulit diri guna menolong saudaranya akan memulyakan? nehi nehi nehi.. mau dibawa ke mana emangnya coy?
Ini bukan saudara, kenal juga tidak tapi saat kita sangat membutuhkan maka uang itu segera bisa dimanfaatkan tanpa basa-basi, tanpa muka memelas, tanpa muka mempertaruhkan rasa malu. maka hanya kepercayaan itulah yang musti kita jaga terhadap mitra non manusia berbentuk instansi ini.