Berangkat dari rasa malas dan rasa bosan, orang-orang cerdas selalu membuat terobosan yang nyentrik hingga tepat guna baik pada teknologi, otomotive dan elektronik. Semua itu adalah rekayasa teknologi. Lalu jika ada orang yang malas, tak perlu risau, asal ia punya dorongan sebagai inovator yang tinggi pasti rasa malasnya terbayar dengan sempurna.
Malas jalan, bikin sepeda. Ogah ngotel, bikinlah motor. Biar keren dan tidak kena panas dan hujan terciptalah mobil. Mau menyeberangi samudera tapi ogah berenang, terciptalah perahu dan kapal. Malas kelamaan di kapal laut, pengin yang cepat, terciptalah otong abung atau pesawat terbang. Begitulah, dari generasi selalu saja ada perbaikan di sana-sini hingga manusia haus akan inovasi.
Setelah semua tercipta, si pemikir terus saja memikirkan hal baru dan langsung dipecahkan untuk menyelesaikanya. Saat kemajuan demi kemajuan diraih, semua terasa begitu mudah. Ke sana kemari bisa naik moda transportasi. Jarak dan waktu digulung sedemikian hingga tak lagi berarti, maka bukan lagi tujuan yang tercapai saat seperti idealisme menciptakan sesuatu.
"Nanti kalau sudah ada kendaraan laut kita main ke sanak saudara yang nun jauh di sana..." itu pun jadi suatu tantangan, maka aku berfikir keras bagaimana caranya agar tak perlu buang banyak biaya dan waktu tapi tujuan tercapai, maka terciptalah pesawat telfon. Kabel berhamburan di mana-mana, tak indah dipandang mata. Pun, tetap berfikir bagaimana supaya telfon tp bisa kirim tulisan dan gambar bahkan bisa saling sapa dalam keadaan gerak/ video. Lalu munculah HP canggih. Sebelum HP canggih, sengaja diskip karena musti cerita pejer (pager: starko, dll), hp monocrom, dll. Panjang banget. Begitulah sekelumit tentang otak yang terus berdesak-desak didalam kepala tapi tau cara penyaluranya.
Seperti halnya menulis ini, mulai saja dulu apa yang ada di kepala, entah ujungnya mau ke mana yang penting ikuti saja nalurinya. Juga kenapa harus berada di Ibukota negara Indonesia ini, yang konon sebentar maning akan pindahan ke pulau seberang. Kalau tidak memulai ke Bandung pada saat 1995, baru seminggu di Dago, artis beken kenamaan Nike Ardilla terjadi kecelakaan maut. Dua bulan berikutnya ke Bogor, ngamen, darholin bersama Yardoto, yang sekarang sudah jadi Guru besar di SDN 2 Tlaga. Tak lama berselang pergilah aku ke Jakarta Barat bersama rekan2 ahli nujum, dalam benaku tukang jahit dan konveksi adalah ahli nujum, entah kenapa. Mungkin saat jarum baru dimasukan ke benang, lalu dolop-dolop seperti mau menusuk ke kain terpola yang siap dieksekusi, maka jadi nujum. wik wik wik... entahlah. Semuanya karena mulai dulu, hingga akhirnya terdampar di Pesisir Tanjung Priok bergelut dengan kapal-kapal entah milik siapa, pasti punya orang yang malas seperti diawal cerita tadi yang dulunya ogah berenang mengarungi samudera. Soal hasil tergantung prosesnya. Jadi, apapun laku kita pastikan semua harus berani mencoba memulai dahulu. Hingga kita bisa merasakan manisnya rasa pahit dari proses kehidupan. Tidak nyambung, bawa golok
