Minggu Pagi,15 September 19 bangun jam 0300, dingin menusuk tulang lantaran kemarau panjang. Bulan purnama tepat di atas kepala terlihat menyembul dari gumpalan awan hitam. Sayang disayang awan hitam pembawa uap air hujan masih bergerak ke arah utara, super kononya adalah belum ada tanda-tanda hujan. Dikala semua serba digital dan modern, cara lama kadang lebih tepat. Dan benar saja, memang masih kemarau. Pasti itu berdasarkan penerawangan yang berulang setiap musim berlalu dari jaman batu.
Bangun lebih awal serasa waktu lebih lama sehingga kebersamaan dengan keluarga sedikit ada rekayasa tempo sepersekian menit lebih lama. Istri terlihat masih terlelap karena kelelahan mengurus anak-anak, dan suami yang kebetulan lagi mudik. Kubangunkan pelan-pelan dan ia segera bangun dan menuju dapur. Rencana hari ini yang sudah dibahas seminggu yang lalu adalah naik ke puncak bukit Kaliung, adalah titik tertinggi di daerah kami tinggal. Apa yang menarik?
adalah melewati hutan pinus, jalan menanjak, udara sejuk dan puncaknya adalah bisa melihat matahari terbit secara langsung, pas keluar dari bukit gunung Slamet.
Istri menyiapkan bekal, sementara aku membangunkan anak-anak, menyiapkan perlengkapan: tenda, lampu senter, jaket, dll.
Subuh berjamaah di Mushala, dan selepas Shalat kami menuju lapangan Munjul di dataran tinggi. Pas jam 05 pagi udah bertengger di atas puncak
