Prenjak dalam sangkar


Beberapa dekade yang lalu, saat itu aku masih remaja demikian menggemari lagu-lagu yang diperdengarkan dari radio transistor. Teknologi saat itu memang lagi canggih-canggihnya terhadap bunyi-bunyian termasuk perangkat pengeras suara. Transistor belakangan kuketauhi komponen elektromagnetik yang berfungsi sebagai penguat atau ampli, jangan membayangkan suara dari radio transistor begitu nyaman, suround dan stereo. Tidak, man.. justru sangat memekakan telinga, dikecilkan potensionya begitu lirih nyaris tak terdengar, dinaikan sedikit saja sudah kencang. 


90-an adalah masa-masa penuh vokal, semua perlu bersuara baik suara sumbang maupun merdu. Cikal bakal got talent atau ajang bakat mulai tumbuh saat itu, ada Asia Bagus yang mengorbitkan Krisdayanti dan Ruth Sahanaya. Demikian pula pertumbuhan radio ta
pe baik jenis compo maupun deck yang begitu populer saat itu. Sandiwara radio bertebaran dari berbagai sanggar dan berebut hak siar dari stasiun radio.
yah... itulah jaman suara bebas berkumandang.

Itu semua teknisnya, tapi dari semua jenis teknlogin saat itu musisi juga sangat keras bersuara mengkritik kebijakan dan kritik sosial. Lagu-lagu yang dihasilkan pada saat itu begitu melegenda sampai sekarang karena barangkali diciptakan penuh dengan penghayatan, tanpa kepura-puraan. Idealisme dijunjung tinggi karena tingkat kemurnian maha karya, bukan melulu atas dasar fulus. 

Kini....
Burung prenjakpun berkicau didalam sangkar, sang empunya menikmati di teras rumah bersama teh tubruk atau kopi hitam, ditemani kretek dari Kudus. Pented, ketilang, deruk bahkan kepudang yang dulu masih begitu mudah aku saksikan di dahan-dahan pohon sepanjang jalan, kini jangankan suaranya, wujudnya pun hanya bisa kita saksikan di chanel Youtube. Bersuara keras mungkin saat ini tak lagi dibutuhkan, karena tak perlu lagi ada wujud kabel, piringan, CD atau kaset. Kini suara digital dapat kita nikmati dari genggaman, suaranya lembut, sejuk, distorsi bass, voval dan trible dapat kita sesuaikan cuma dengan geser dan usap. Ruang publik untuk membuka suara mengemukakan kritik atas ketidakberesan penguasa seakan tidak terpenuhi. Sedikit keras saja seperti mudah menjadi delik, tak lagi kujumpai musisi menggarap lagu-lagu keras seperti saat aku kecil.
Suara kicau burung di alam bebas kian hari kian langka, suara kebebasan sulit kujumpai, entah dimana letak transistornya. 

Bahkan burungpun musti masuk kandang dulu agar suaranya begitu-begitu saja..